1. Padamu negeri, kami berbakti.
  2. Padamu negeri, kami mengabdi.
  3. Padamu negeri, kami berjanji:

Diskusi Local Content

15 Desember 2008 -- 0290/0

Kalau tak telanjur berjanji, tentu aku memilih berhenti menzalimi tubuh, dan mengistirahatkannya Sabtu lalu; setelah dihempas kemolekan alam Minahasa yang tak ampun meliukkan badan di jalan berliku 3 dimensi sejauh nyaris 300 km (pulang pergi) antara Manado - Amurang - Modoinding, disusul penerbangan Manado - Makassar - Cengkareng, dan kemacetan panjang Cengkareng - Jakarta di Jumat malam. Tapi janji adalah janji. So, Sabtu pagi aku sudah meluncur lagi ke Bandung, dan membuat sekedar presentasi singkat dalam perjalanan 2 jam di shuttle Primajasa.

Acara ini bertajuk "Local Content" dan bertempat di Gedung DetikBandung, di Jl Lombok 33. Formatnya informal. Ada 3 speaker, tetapi suasananya tidak resmi. Powerpoint tetap dipakai. Tapi aku lihat, semua materi tidak specially dedicated untuk kegiatan ini. Berbeda dengan Fresh 4, dimana aku dan para panitia masih sibuk mengundangi peserta hingga detik-detik terakhir, pada acara ini tidak ada acara mengundang dengan serius. Jadi peserta pun cukup beberapa belas, termasuk warga kantor Detik Bandung sendiri.

Aku mengawali perbincangan dengan bercerita tentang conceptual age, dan ciri2 yang membedakan conceptual age dengan information age. Dilanjutkan sekilas dengan beberapa challenge. Lalu aku bawakan beberapa hasil survei tentang demand user di Indonesia atas content, termasuk dari berbagai segment. Trus perbincangan ditutup dengan soal infrastruktur bersama. Based on SDP. Selanjutnya Rendy Maulana dari Qwords bercerita tentang best practice dalam pengembangan local content. Pembincang terakhir dari Detik, Donny BU, banyak membandingkan kondisi kita dengan yang di luar, dan dengan demikian memberikan inspirasi langkah2 yang bisa kita lakukan untuk pengembangan local content secara lebih jauh.

Sesi tanya jawab tak terlalu menarik pengunjung untuk bertanya. Mungkin para pengunjung lebih banyak dari rekan2 muda yang baru sekedar ingin tahu tentang local content. Belum dalam tahap mulai ingin membangun atau mengembangkan. Tapi, OK, awal yang baik :). Acara formal ditutup. Kemudian perbincangan2 informal. Aku talk dengan Tsukasa Iga, seorang researcher dari Jepang yang sedang mendalami social networks di Indonesia. Selanjutnya dengan Isman Suryaman, penulis buku Bertanya atau Mati yang kadar candaannya terlalu tinggi itu. Diteruskan dengan Diki Andeas, kartunis Chickenstrip yang selalu rendah hati, menutupi potensi dirinya yang sesungguhnya tinggi sekali. Dan dengan beberapa rekan yang sudah cukup lama kenal, baik di KLuB, Batagor, dan komunitas lain di Bandung.



Belum ada dari pihak speaker atau panitia yang menulis report tentang kegiatan ini. Mungkin sibuk. Tapi tuan rumah Detik sudah menuliskan artikel tentang ini hari ini: Konten Lokal Modal Dengkul. Aku menutup sore dengan dinner yang terlalu cepat di Raffael Ciwalk dengan Yudha, Maya, Diki, dan kemudian juga Adham Somantrie yang kebetulan sedang di Ciwalk. Trus balik ke Jakarta, bawa risoles selusin. Nausea itu kembali. Sebel :).