Nobel dan Swedia
11 Juni 2008 -- 04/0
Kalau hanya melihat data statistik, kita selalu disuruh percaya bahwa negara2 Skandinavia adalah yang paling makmur di dunia: teledensitas telefon tertinggi, Internet per kapita tertinggi, sampai konsumsi kopi per kapita tertinggi. Ini pernah di bahas di kelas beberapa tahun lalu, dan aku berusaha menangkap persamaan kopi dengan Internet: itu konsumsi orang dewasa. Dan memang negara2 Skandinavia itu berpola penduduk tua: laju pertumbuhan penduduknya negatif. Jadi sulit dibandingkan dengan negara2 lain yang terus memproduksi bayi sebagai pembagi statistik.
Aku baru baca lagi tentang salah satu negara di sana: Swedia. Khas Skandinavia, negara ini berada di ranking tiga sebagai negara paling kompetitif, dan mengeluarkan biaya R&D per kapita terbesar di dunia. Namun negara ini juga ternyata pengekspor senjara terbesar per kapita -- bersama Israel. Bedanya, Israel terkenal sebagai tukang bunuh, tapi Swedia aman bersembunyi di balik citra baik (saat ini -- namun bagi Finlandia, Swedia tetap suka dianggap agresif). Padahal ekspor senjata Swedia terkenal kejam. Setidaknya seorang Perdana Menteri Swedia harus dibunuh, dan satu lagi karirnya harus hancur. Pembunuhan PM? Ya, mungkin kita masih ingat nama Olof Palme. Beliau dibunuh di jalan agak sepi beberapa tahun yang lalu. Pembunuhnya dicurigai dari kalangan militer sendiri. Makhluk ini terlalu ideal, sementara industri senjata Swedia sedang dalam deal ketat, yang justru dihalangi sang PM. Dua minggu setelah pembunuhan Olof Palme, kontrak persenjataan ditandatangani dengan sukses. Di India, nama Bolfor (industri senjata Swedia) terkenal sebagai sesuatu yang busuk; melibatkan suap kepada mantan PM Rajiv Gandhi yang sebelumnya dipercaya rakyat sebagai Mr Clean. Bolfor sendiri masih beroperasi seolah tak terjadi apa2. Contoh lain adalah terkuaknya penyuapan oleh Gripen, industri senjata Swedia lain, kepada pemerintah Ceska dan Hongaria. Industri senjata sendiri memang terkenal penuh penyuapan. Tapi, seperti ditulis di atas, Swedia selalu tetap punya citra baik.
Ya, ini terlalu lucu untuk negara yang setiap tahun sibuk membagikan hadiah Nobel, termasuk Nobel Perdamaian.
Dan ini mengingatkan bahwa Alfred Nobel sendiri punya cerita lucu. Sejak muda, Alfred memang melakukan penelitian atas bahan peledak, terutama nitrogliserin -- benda cair yang mudah meledak luar biasa. Kalau bisa disimpan dengan aman, benda ini bisa menggantikan mesiu yang ledakannya lemah. Percobaan Alfred pernah membunuh 5 orang, termasuk salah satu adiknya. Pada usia 30, baru ia menemukan solusi: silikat berpori dari alga yang dikeraskan akan mampu menyerap nitrogliserin dan mengamankannya. Alfred menamainya dinamit. Maksudnya untuk tujuan damai, seperti membangun rel. Tapi kemudian juga digunakan untuk membuhuh tsar Russia. Nah, suatu hari Ludvig Nobel meninggal. Sebuah koran Perancis mengira Alfred yang meninggal, lalu menulis obituari tentang meninggalkan seorang industriawan yang rajin mencari cara untuk mencacati dan membunuh. Alfred membayangkan bahwa akan seperti itulah obituari dirinya akan ditulis kalau dirinya meninggal beneran. Maka Alfred mencari cara untuk memperbaiki citra dirinya. Dan hasilnya adalah Hadiah Nobel itu, termasuk Nobel Perdamaian. Sekarang Nobel dikenang sebagai pecinta ilmu dan perdamaian.
Comment(s):
Marsono
Mestinya ditutup kaya gini, mas Koen: "Tulisan ini dipersembahkan bagi mereka yang berperilaku negatif , lalu dengan sukses menutupinya dengan citra diri yang baik"anggun
psikopat ilmiah
banyak juga di sekitar kita yg berperilaku seperti itu nampak manis diluar didalam busukmasgiarto
Saya termasuk yang tak bangga jika mendapat hadiah Nobel ( emang siapa yang mau ngasih? hihihi :) ). Tetangga ku malah lebih lucu, dia dapat hadiah nobel berupa seorang anak bayi yang diberinya nama dengan Judul "Nobel".
" Nobel No Cry".kakak
obituari tentang meninggalkan seorang industriawan.
meninggalnya?




