Fresh 7
18 Maret 2009 -- 010235/0
[Entry pindahan dari blog lain, 3 Maret 2009]
Fresh (dari freedom of sharing) adalah forum lepas di Jakarta, berisi pelaku bisnis kreatif digital segala usia segala perilaku :). Fresh melakukan diskusi bulanan, sejak pertengahan tahun 2008. Akhir Februari lalu, Fresh ke 7 digelar di Salihara.
Salihara adalah nama jalan di sekitar Pasar Minggu - Pejanten. Di tempat yang agak terpencil tetapi dikepung macet ini, Goenawan Mohamad dan para sahabatnya membangun Komunitas Salihara. Di Salihara ini ada auditorium, lobby, dan tentu tempat makan. Auditoriumnya menarik, baik secara fungsi maupun estetika. Aku nggak akan menceritakan lebih detail. Kita harus lihat sendiri dan kagum sendiri :).
GM jadi salah satu speaker pada Fresh 7. Karena sudah tak muda lagi :), para speaker pada sesi itu boleh bicara sambil duduk -- nggak khas Fresh sebenernya :). Tapi kan bebas :). GM didampingi Wicaksono (seleb blog yang konon wartawan Tempo -- haha), Antyo Rentjoko (editor amat kreatif, yang saat itu sedang membangun web buat GM), serta Budiono Darsono (pimred Detikcom, yang ternyata juga mantan Tempo).
Aku harus mengaku banyak berhutang ke GM. Biarpun keinginan menulis itu dibangkitkan oleh Soe Hok Gie dan James Herriot, tetapi inspirasi menulis banyak dibangkitkan oleh GM. Di SMA aku sering bolos hanya buat baca bundel Tempo kuno halaman terakhir, baca Catatan Pinggir. Dan tentu uang saku pas-pasan itu dipakai juga buat beli Tempo eceran, buat baca Catatan Pinggir. Dan beli buku koleksi Catatan Pinggir yang terbit nyaris sekaligus, jadi terasa mahal juga :). Mudah-mudahan bukan gara-gara itu, aku lebih suka menulis catatan pendek, bukan sebuah buku lengkap :). Di Isnet aku jadi pernah nulis tentang Cervetus, dan kecenderungan kita untuk memberontak terhadap kezaliman, untuk kemudian menjadi si zalim itu sendiri. Ini tentu inpirasi langsung dari GM. Juga metafor-metafor wayangnya. Tapi tentu aku kenal Wagner (wayang Jerman dan Nordik) bukan dari GM. Itu kerjaan Herriot :). Juga aku nggak sepaham sama Komunitas Utan Kayu soal Islam Liberal. Buat aku itu lebih merupakan marketing gimmick daripada gerakan yang tulus. Tapi sudahlah. Hidup singkat. Haha :).
So, GM bercerita tentang pengalamannya berinternet. Tempo itu seangkatan Republika dalam berinternet, disusul Kompas. Tapi sebelum Tempo, Internet (mail group, usenet, dll) telah digunakan masa itu untuk menyebarkan informasi bawah tanah di masa represi Soeharto. Lalu GM lompat ke Jamaah Tarikah Al-Facebookiyah, dan hal-hal menarik dari Web 2.0. Apa yang menarik? Bangkitnya komunikasi tertulis, keinginan menulis, dan mekanisme feedback yang membuat para penulis itu terus belajar.
Aku iseng bertanya tentang hal yang masih dikaji komunitas blogger saat ini, yaitu perlunya kode etik. Aku sendiri berpendapat bahwa kode etik buat para blogger (aku tidak menyebutnya citizen journalist atau lainnya, tapi sekedar blogger) tidak perlu dibakukan, tetapi hanya merupakan konsensus tak tertulis yang bangkit dari tradisi adlam komunitas sendiri. Tapi aku nggak yakin juga, karena komunikasi digital itu kuat, dan etika perlu dijaga (para admin mail group akan tahu tentang ini). Di sisi lain, dibakukannya kode etik, apalagi tertulis, dapat kembali dijadikan alat represi kolektif, dengan satu atau cara lain. Aku nggak akan memerinci di sini, karena bisa jadi debat yang nggak perlu. Dan aku juga nggak memerinci di sana, selain menyebut soal agama (Contoh: misalnya kode etik menyebut bahwa blogger Indonesia harus bertakwa kepada tuhan -- nilai yang amat baik ini bisa jadi senjata saat tuhan diindentikkan dengan interpretasi agama oleh kelompok penekan. Aku bisa memberikan contoh yang sama dengan nilai lain yang juga mulia seperti kemanusiaan, hak asasi, dll, yang juga bisa menjadi berbalik).
Tapi GM tak melihat itu jadi masalah. Justru nampaknya GM lebih setuju bahwa etika komunikasi akan lebih baik jika ditegakkan dengan kode etik yang dibuat oleh komunitas sendiri, bukan dari pemerintah misalnya. Dan Budiono menambahkan dengan mengingatkanku bahwa kode etik itu untuk menjaga para blogger sendiri agar tak mudah dijerat hukum karet. BD menceritakan juga tentang seorang pakar -- sebutan BD sendiri -- yang sibuk berusaha memenjarakan blogger. Atas para inspirasi itu, aku menjawab bahwa aku masih terus berpikir :). Tapi, inspirasi para senior memang menarik.
Sebelum ditutup, GM menambahkan satu hal: ia akan sangat berterima kasih jika dari komunitas ada yang mau membuatkan web untuk ... puisi :).
Cukup banyak yang didapat malam itu. Ditulis lain hari deh, kalau lagi ingat :).
 
Diskusi Local Content
15 Desember 2008 -- 0144/0
Kalau tak telanjur berjanji, tentu aku memilih berhenti menzalimi tubuh, dan mengistirahatkannya Sabtu lalu; setelah dihempas kemolekan alam Minahasa yang tak ampun meliukkan badan di jalan berliku 3 dimensi sejauh nyaris 300 km (pulang pergi) antara Manado - Amurang - Modoinding, disusul penerbangan Manado - Makassar - Cengkareng, dan kemacetan panjang Cengkareng - Jakarta di Jumat malam. Tapi janji adalah janji. So, Sabtu pagi aku sudah meluncur lagi ke Bandung, dan membuat sekedar presentasi singkat dalam perjalanan 2 jam di shuttle Primajasa.
Acara ini bertajuk "Local Content" dan bertempat di Gedung DetikBandung, di Jl Lombok 33. Formatnya informal. Ada 3 speaker, tetapi suasananya tidak resmi. Powerpoint tetap dipakai. Tapi aku lihat, semua materi tidak specially dedicated untuk kegiatan ini. Berbeda dengan Fresh 4, dimana aku dan para panitia masih sibuk mengundangi peserta hingga detik-detik terakhir, pada acara ini tidak ada acara mengundang dengan serius. Jadi peserta pun cukup beberapa belas, termasuk warga kantor Detik Bandung sendiri.
Aku mengawali perbincangan dengan bercerita tentang conceptual age, dan ciri2 yang membedakan conceptual age dengan information age. Dilanjutkan sekilas dengan beberapa challenge. Lalu aku bawakan beberapa hasil survei tentang demand user di Indonesia atas content, termasuk dari berbagai segment. Trus perbincangan ditutup dengan soal infrastruktur bersama. Based on SDP. Selanjutnya Rendy Maulana dari Qwords bercerita tentang best practice dalam pengembangan local content. Pembincang terakhir dari Detik, Donny BU, banyak membandingkan kondisi kita dengan yang di luar, dan dengan demikian memberikan inspirasi langkah2 yang bisa kita lakukan untuk pengembangan local content secara lebih jauh.
Sesi tanya jawab tak terlalu menarik pengunjung untuk bertanya. Mungkin para pengunjung lebih banyak dari rekan2 muda yang baru sekedar ingin tahu tentang local content. Belum dalam tahap mulai ingin membangun atau mengembangkan. Tapi, OK, awal yang baik :). Acara formal ditutup. Kemudian perbincangan2 informal. Aku talk dengan Tsukasa Iga, seorang researcher dari Jepang yang sedang mendalami social networks di Indonesia. Selanjutnya dengan Isman Suryaman, penulis buku Bertanya atau Mati yang kadar candaannya terlalu tinggi itu. Diteruskan dengan Diki Andeas, kartunis Chickenstrip yang selalu rendah hati, menutupi potensi dirinya yang sesungguhnya tinggi sekali. Dan dengan beberapa rekan yang sudah cukup lama kenal, baik di KLuB, Batagor, dan komunitas lain di Bandung.
Belum ada dari pihak speaker atau panitia yang menulis report tentang kegiatan ini. Mungkin sibuk. Tapi tuan rumah Detik sudah menuliskan artikel tentang ini hari ini: Konten Lokal Modal Dengkul. Aku menutup sore dengan dinner yang terlalu cepat di Raffael Ciwalk dengan Yudha, Maya, Diki, dan kemudian juga Adham Somantrie yang kebetulan sedang di Ciwalk. Trus balik ke Jakarta, bawa risoles selusin. Nausea itu kembali. Sebel :).
 
Dari Hati Yang Putih
02 Oktober 2008 -- 06/0

Waktunya kontemplasi post-Ramadhan.
Bisakah tempaan Ramadhan meningkatkan kualitas hidup kita -- sesudahnya?
Yuk kita mulai, dari hati yang 'lah kita jernihkan ini :).
 
Rabu Malam di MU Cafe
21 September 2008 -- 09/0
“Dibuat bergaya kopdar aja yuk!”
“Ya! MU Café dekat sini, keren juga.”
Begitulah, maka akhirnya kita siapkan kopdar multi-komunitas di MU Café, minggu lalu. Tentu, di tengah kesupersibukan yang tak berampun, kita sengaja bikin adegan ngeles, “Nanti jangan dibikin terlalu perfect ya. Biar tetap bersuasana kopdar.” Entah apakah EO paham (^_^).
Acara yang dijadikan judul adalah launching PasarKreasi. Sekaligus bersama launching ini adalah Kompetisi Fotografi PasarKreasi, yang dieksekusii oleh Komunitas Fotografer 135. Tak kalah pentingnya adalah pemurnaan lomba Flexter Blogging 2008, yang ditandai oleh penyerahan hadiah. Kedua kegiatan itu dilakukan oleh tokoh2 Telkom. Jabatannya apa? Ah, ini kopdar. Jabatan nggak penting (^_^). Dan tentu ini diramaikan para blogger Jakarta dan Bandung. Kota lain, atas policy setiap divisi, memutuskan akan menyelenggarakan secara terpisah di kota masing2. Sepasang Flexter Surabaya turut hadir :).
Blogger dan flexter Bandung datang dengan bis, atas koordinasi Anis dan Deby. Selusin blogger dan sekodi flexter Jakarta menyambut. Cuman selusin? Haha, alokasinya segitu sih :). Tapi diperamai oleh para anggota dewan juri Flexter Blogging yang tampaknya juga seleb lama blog nasional: Budi Rahardjo, Budi Putra, Priyadi, dan Viking Karwur, plus kaukus blogger Telkom yang jadi juri juga: Jojo, Deby, Anis, Ipung, mmm, siapa lagi yang hadir?
Para flexter, blogger, fotografer, dan artists cukup berbaur. Tapi bergitu mendekati buka puasa, para blogger baru sadar bahwa mereka nggak punya meja. Jadi kaburlah mereka/kami ke pojok. Selintas mirip kopdar dalam kopdar. Sekaligus ajang konsolidasi para seleb blog baru, haha. Hush. Thanks atas kehadirannya, Jay, Chika, Pitra, Kukuh. Thanks juga untuk tim penyerbu dari Bandung.
Setelah buka puasa, tim Bandung balik. Tim Chika meneruskan kopdar di Plangi. Pitra dan Kukuh menyiapkan Fresh hari Selasa depan. Komang, Budi Putra, Yudha, dan Koen membahas rencana bulletin komunitas. Tak lama Budi Putra diculik Aulia Masna untuk interview di tempat (entah untuk MacWorld, atau MadWorld, lupa), sementara Koen dan Jay melihat2 foto malam itu. Cukup malam. Di sudut MU yang lain, para Flexter masih berdiskusi asyik. Aku memutuskan bersiap untuk ke Medan pagi berikutnya.
Makasih, semuanya: yang hadir meramaikan, yang rela repot & datang dari jauh sambil berpuasa, yang berusaha keras hadir tapi gagal, yang memaafkan ketidaksempurnaan penyelenggaraan acara, yang nekat plurking dalam suasana apa saja, yang tetap ceria di mana aja. Makasih, semuanya.
 
D
02 September 2008 -- 02/0
Kalau kamu mau melihatku berbisik, dan bukan tertawa ceria; ini aku datang padamu hanya mampu berbisik.
Kalau kamu mau melihatku berfatihah, bukan berdiskusi sains; ini aku gagap berfatihah di sampingmu.
Kalau kamu mau mendengarku bertasbih, tahmid, takbir; moga kamu mampu mendengar semuanya dalam getaran suaraku.
Sembuh ya, D.
 
Flexter Khatulistiwa
28 Agustus 2008 -- 05/0
Acara weekend lalu di Pontianak adalah pengukuhan organisasi Flexter
Khatulistiwa of Kota Pontianak dan sekitarnya. Acaranya sendiri
dilakukan di sebuah tempat peristirahatan yang asri: Taman Agro, kurang
lebih 15 km dari kota Pontianak. Menyusuri Sungai Rengat, kami tiba di
lokasi pukul 08.30 -- 45 menit perjalanan darat menyeberangi kabupaten
Kubu Raya. Masih cukup sepi, dan kami mulai bersiap. Tak lama,
rombongan Flexter mulai tiba, berkendara motor berbagai ukuran, dan
sebuah bis untuk yang tak bermotor.
Si MC yang kocak dan centil (cowok loh) membuka acara penuh canda,
sambil sesekali menyanyi. Trus aku berpresentasi tentang Flexiland dan
Flexter; diteruskan Mas Iskandar (iskuman.myflexiland.com) dengan
berbagai aspek komunitas Flexter. Asik dan renyah. Pak Ramli memberi
sambutan selamat datang; dan kemudian Flexter Khatulistiwa dikukuhkan
oleh EGM Divre VI, Triana Mulyatsa. Pak Triana ini ex-boss di Divre III
Jawa Barat dulu, dan masih awet ramah dan optimis seperti dulu. Hadir
juga ex-boss Pak Arif Prabowo, yang masih awet cool. Kemudian peserta
(kurang lebih 70 orang) diberi pembekalan motivasi oleh Mas Jemi Confido.
Hmm, aku malah sempat plurking dan baca2 mail dengan Flexi. Lumayan juga, di pelosok gini :).
Flexter Khatulistiwa diketuai Mas Irfan Hendri. Beliau ini adalah
Pembantu Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura. Pas untuk
urusan komunitas, sekaligus keanakmudaan. Anggota2nya, yang sempat2
ngobrol, terdiri dari berbagai kalangan. Ada pengusaha, ada manager
sebuah English Training Centre, ada penggemar motor (yang sebelumnya
sudah berkomunitas), ada ... wah banyak.
Sayang sekali kami tak bisa sampai malam mingguan di sana, karna harus kembali malam itu juga ke Jakarta. So, sampai ketemu lagi, para Flexter Kalimantan. Selalu kreatif, dan terus berbakti untuk negeri ini!
 
Ya, Kun Memang Kaya Toast
28 Agustus 2008 -- 09/0
 
Pontianak
23 Agustus 2008 -- 08/0
Menurut rencana, seharusnya kemarin aku mendadak ke Bandung. Suatu
ceremony Telkom, tetapi sekaligus pengenalan beberapa content baru
(yang terkait dengan musik). Tapi di tengah jalan, tugas lain
disodorkan: terbang ke Pontianak. Wiiiikikikikikiki. Eh, itu mah bukan
Pontianak.
So, bersama Mr Iskandar of Flexter Zero21, siang ini aku melandas di
Supadio Airport. Acaranya ... ah masih besok :). Perjalanannya sendiri
menarik. Aku harus 2x kenalan sama Mas Iskandar. Sekali sebagai Kuncoro
of Telkom, dan sekali lagi kemudian sebagai Koen of Flexiland. Tapi Mas
Iskandar sendiri piawai mengutak atik berbagai hal. Aku baru tahu
misalnya bahwa GPS di Nokia 6275i-ku itu berfungsi beneran; bukan cuman
software yang salah diinstal Nokia. Duh, kenapa nggak kenal dari dulu2
sih? Haha :). Jadi GPS mulai dihidupkan tepat di atas Belitung. Dan
perjalananan ke Pontianak, dengan demikian berarti perjalanan GPS
mendekati 0 derajat LS/LU.
Pontianak sendiri tidak berbeda jauh dengan kota2 di Jawa, kalau
dilihat dari bawah. Mungkin etniknya saja tampak berbeda. Dari atas
sih, tampak pertigaan sungai yang menawan, saat sungai Kapuas berpadu
dengan sungai Landak.
Bersambung besok ah.
 
Kopdar 08/08/08
12 Agustus 2008 -- 06/0
Jadi, aku berserial kopdar di Bandung pada sebuah Jumat.
Pertemuan pertama di ITB. Dijadwal jam 09.00, dan hanya meleset dikit. Travel Queen cukup kencang juga :). Dari USDI ada Basuki Suhardiman dan rekan-rekan, dan dari Telkom ada Komang Adyarsa dan Diatherman Anggen, di samping aku juga. Temanya tentang pengembangan komunitas kreatif. Di sini juga aku sempat ketemu Widianto Nugroho, salah satu web designer ITB.ac.id yang baru itu. Ini juga satu 'friend' baru di Facebook :).
Jeda beberapa menit aku manfaatkan untuk bertamu di Dago 8. Ini markas beberapa komunitas, yang kebetulan juga jadi kantor Marketing Telkom Divisi Regional III.
Pertemuan kedua di RDC. Tahu RDC nggak? Di Bandung ada banyak mall dengan singkatan tiga huruf. BIP, BSM, BCC, BTC, BTM, dan RDC mau masuk sebagai salah satunya. C-nya centre juga, seperti banyak mall lain. Sebelum musim mall, namanya Risti. Di sini judulnya Kopdar Blogger Telkom :), atas undangan Jojo Adi :).. Dewan blogger Telkom ini juga berfungsi sebagai juri untuk lomba blogging Flexter. Di kopdar berkedok meeting ini, terundang juga para grand jury yang semuanya tak tercemar Telkom: Budi Putra, Viking Karwur, Priyadi, dan Budi Rahardjo. Nama2 diurut menurut urutan hadir. Kopdar di sini dilakukan dua sesi. Sesi satu memaparkan kerja teknis grand jury, sekaligus perkenalan dan berbagi tips blogging. Cukup ramai, dengan gaya masing2. Dina menceritakan lebih menarik di blognya. Sesi dua di RajaRasa, dengan sea food yang yummie-yummie. Katanya :). Hihi. Aku lagi demam dan meradang, jadi tak bisa menikmati makanan :). Diakhiri foto2. Namanya juga kopdar.
Jeda lagi, aku memutuskan ke dokter THT yang mendadak jadi langganan; di Apotek Kimia Farma Dago. Budi Putra dan Priyadi memilih menemani antri dokter dan apotek, alih2 menikmati senja di Excelso. Ah, blogger memang sahabat terbaik. Pak dokter yang ramah sampai berdecak melihat THT-ku. "Parah," katanya. Lalu memberi deretan racun untuk badanku. Waktu menunjuk 08:08pm. Racun kutelan, lalu ...
Kopdar lagi. Kali ini dengan apa yang menamakan diri sebagai Bandung Plurker Community (biar 3 huruf/huruv/hurup). Dikomandani oleh Bunda Endhoot, tema kopdar kali ini adalah "menonton TVRI" -- yang kebetulan acaranya rada bagus, yaitu pembukaan olimpiade. Berderet barisan atlit berbagai bangsa, berbagai bendera, disambut dara Cina dengan gaya yang amat dibenci Priyadi: dancing banana. Acara chaotic ini mendadak jadi Forum Ponsel tandingan, saat semua peserta spontan mengeluarkan gadget yang dipegangnya, dan langsung difoto beramai2. Jadi yang difoto gadgetnya, bukan peserta kopdar. Plurking, memang bukan trend sesaat, tapi jelas trend sesat.
Ini foto BP di depan barisan gadget. Quote hasil contekan: "Hasil carding neh."
Lalu aku harus menyerah. Selain radang dan demam kian mengganggu; juga racun dari dokter mulai bereaksi mengeruhkan pikiran ☺. Bobo, dengan rencana untuk kopdar lagi besoknya (tapi ternyata aku nggak bisa dating – masih mabox). Blogger memang sedang dekaden: lebih sering kopdar daripada menulis blog. Tapi blog telah membangkitkan kembali web, Internet, dan kita percaya akan juga membangkitkan bangsa ini. Ayo, maju lagi, maju terus, pangtang mungdur!
 
Soixante Trois
11 Agustus 2008 -- 01/0
Dari hariesdesign.myflexiland.com
 




