1. Padamu negeri, kami berbakti.
  2. Padamu negeri, kami mengabdi.
  3. Padamu negeri, kami berjanji:

D

02 September 2008 -- 02/0

Kalau kamu mau melihatku berbisik, dan bukan tertawa ceria; ini aku datang padamu hanya mampu berbisik.
Kalau kamu mau melihatku berfatihah, bukan berdiskusi sains; ini aku gagap berfatihah di sampingmu.
Kalau kamu mau mendengarku bertasbih, tahmid, takbir; moga kamu mampu mendengar semuanya dalam getaran suaraku.

Sembuh ya, D.

 

Flexter Khatulistiwa

28 Agustus 2008 -- 05/0

Acara weekend lalu di Pontianak adalah pengukuhan organisasi Flexter Khatulistiwa of Kota Pontianak dan sekitarnya. Acaranya sendiri dilakukan di sebuah tempat peristirahatan yang asri: Taman Agro, kurang lebih 15 km dari kota Pontianak. Menyusuri Sungai Rengat, kami tiba di lokasi pukul 08.30 -- 45 menit perjalanan darat menyeberangi kabupaten Kubu Raya. Masih cukup sepi, dan kami mulai bersiap. Tak lama, rombongan Flexter mulai tiba, berkendara motor berbagai ukuran, dan sebuah bis untuk yang tak bermotor.

Si MC yang kocak dan centil (cowok loh) membuka acara penuh canda, sambil sesekali menyanyi. Trus aku berpresentasi tentang Flexiland dan Flexter; diteruskan Mas Iskandar (iskuman.myflexiland.com) dengan berbagai aspek komunitas Flexter. Asik dan renyah. Pak Ramli memberi sambutan selamat datang; dan kemudian Flexter Khatulistiwa dikukuhkan oleh EGM Divre VI, Triana Mulyatsa. Pak Triana ini ex-boss di Divre III Jawa Barat dulu, dan masih awet ramah dan optimis seperti dulu. Hadir juga ex-boss Pak Arif Prabowo, yang masih awet cool. Kemudian peserta (kurang lebih 70 orang) diberi pembekalan motivasi oleh Mas Jemi Confido.

Hmm, aku malah sempat plurking dan baca2 mail dengan Flexi. Lumayan juga, di pelosok gini :).

Flexter Khatulistiwa diketuai Mas Irfan Hendri. Beliau ini adalah Pembantu Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura. Pas untuk urusan komunitas, sekaligus keanakmudaan. Anggota2nya, yang sempat2 ngobrol, terdiri dari berbagai kalangan. Ada pengusaha, ada manager sebuah English Training Centre, ada penggemar motor (yang sebelumnya sudah berkomunitas), ada ... wah banyak.



Sayang sekali kami tak bisa sampai malam mingguan di sana, karna harus kembali malam itu juga ke Jakarta. So, sampai ketemu lagi, para Flexter Kalimantan. Selalu kreatif, dan terus berbakti untuk negeri ini!

 

Ya, Kun Memang Kaya Toast

28 Agustus 2008 -- 04/0

 

Pontianak

23 Agustus 2008 -- 08/0

Menurut rencana, seharusnya kemarin aku mendadak ke Bandung. Suatu ceremony Telkom, tetapi sekaligus pengenalan beberapa content baru (yang terkait dengan musik). Tapi di tengah jalan, tugas lain disodorkan: terbang ke Pontianak. Wiiiikikikikikiki. Eh, itu mah bukan Pontianak.

So, bersama Mr Iskandar of Flexter Zero21, siang ini aku melandas di Supadio Airport. Acaranya ... ah masih besok :). Perjalanannya sendiri menarik. Aku harus 2x kenalan sama Mas Iskandar. Sekali sebagai Kuncoro of Telkom, dan sekali lagi kemudian sebagai Koen of Flexiland. Tapi Mas Iskandar sendiri piawai mengutak atik berbagai hal. Aku baru tahu misalnya bahwa GPS di Nokia 6275i-ku itu berfungsi beneran; bukan cuman software yang salah diinstal Nokia. Duh, kenapa nggak kenal dari dulu2 sih? Haha :). Jadi GPS mulai dihidupkan tepat di atas Belitung. Dan perjalananan ke Pontianak, dengan demikian berarti perjalanan GPS mendekati 0 derajat LS/LU.

Pontianak sendiri tidak berbeda jauh dengan kota2 di Jawa, kalau dilihat dari bawah. Mungkin etniknya saja tampak berbeda. Dari atas sih, tampak pertigaan sungai yang menawan, saat sungai Kapuas berpadu dengan sungai Landak.




Bersambung besok ah.

 

Kopdar 08/08/08

12 Agustus 2008 -- 05/0

Jadi, aku berserial kopdar di Bandung pada sebuah Jumat.

Pertemuan pertama di ITB. Dijadwal jam 09.00, dan hanya meleset dikit. Travel Queen cukup kencang juga :). Dari USDI ada Basuki Suhardiman dan rekan-rekan, dan dari Telkom ada Komang Adyarsa dan Diatherman Anggen, di samping aku juga. Temanya tentang pengembangan komunitas kreatif. Di sini juga aku sempat ketemu Widianto Nugroho, salah satu web designer ITB.ac.id yang baru itu. Ini juga satu 'friend' baru di Facebook :).

Jeda beberapa menit aku manfaatkan untuk bertamu di Dago 8. Ini markas beberapa komunitas, yang kebetulan juga jadi kantor Marketing Telkom Divisi Regional III.

Pertemuan kedua di RDC. Tahu RDC nggak? Di Bandung ada banyak mall dengan singkatan tiga huruf. BIP, BSM, BCC, BTC, BTM, dan RDC mau masuk sebagai salah satunya. C-nya centre juga, seperti banyak mall lain. Sebelum musim mall, namanya Risti. Di sini judulnya Kopdar Blogger Telkom :), atas undangan Jojo Adi :).. Dewan blogger Telkom ini juga berfungsi sebagai juri untuk lomba blogging Flexter. Di kopdar berkedok meeting ini, terundang juga para grand jury yang semuanya tak tercemar Telkom: Budi Putra, Viking Karwur, Priyadi, dan Budi Rahardjo. Nama2 diurut menurut urutan hadir. Kopdar di sini dilakukan dua sesi. Sesi satu memaparkan kerja teknis grand jury, sekaligus perkenalan dan berbagi tips blogging. Cukup ramai, dengan gaya masing2. Dina menceritakan lebih menarik di blognya. Sesi dua di RajaRasa, dengan sea food yang yummie-yummie. Katanya :). Hihi. Aku lagi demam dan meradang, jadi tak bisa menikmati makanan :). Diakhiri foto2. Namanya juga kopdar.



Jeda lagi, aku memutuskan ke dokter THT yang mendadak jadi langganan; di Apotek Kimia Farma Dago. Budi Putra dan Priyadi memilih menemani antri dokter dan apotek, alih2 menikmati senja di Excelso. Ah, blogger memang sahabat terbaik. Pak dokter yang ramah sampai berdecak melihat THT-ku. "Parah," katanya. Lalu memberi deretan racun untuk badanku. Waktu menunjuk 08:08pm. Racun kutelan, lalu ...

Kopdar lagi. Kali ini dengan apa yang menamakan diri sebagai Bandung Plurker Community (biar 3 huruf/huruv/hurup). Dikomandani oleh Bunda Endhoot, tema kopdar kali ini adalah "menonton TVRI" -- yang kebetulan acaranya rada bagus, yaitu pembukaan olimpiade. Berderet barisan atlit berbagai bangsa, berbagai bendera, disambut dara Cina dengan gaya yang amat dibenci Priyadi: dancing banana. Acara chaotic ini mendadak jadi Forum Ponsel tandingan, saat semua peserta spontan mengeluarkan gadget yang dipegangnya, dan langsung difoto beramai2. Jadi yang difoto gadgetnya, bukan peserta kopdar. Plurking, memang bukan trend sesaat, tapi jelas trend sesat.

Ini foto BP di depan barisan gadget. Quote hasil contekan: "Hasil carding neh."



Lalu aku harus menyerah. Selain radang dan demam kian mengganggu; juga racun dari dokter mulai bereaksi mengeruhkan pikiran ☺. Bobo, dengan rencana untuk kopdar lagi besoknya (tapi ternyata aku nggak bisa dating – masih mabox). Blogger memang sedang dekaden: lebih sering kopdar daripada menulis blog. Tapi blog telah membangkitkan kembali web, Internet, dan kita percaya akan juga membangkitkan bangsa ini. Ayo, maju lagi, maju terus, pangtang mungdur!

 

Soixante Trois

11 Agustus 2008 -- 01/0



Dari hariesdesign.myflexiland.com

 

PHP Motion

05 Agustus 2008 -- 02/0

Dari yang kelas Youtube, sampai yang baru lahir semacam Veeon dan Guebanget, layanan video sharing masih dan makin dinikmati. Barangkali aku termasuk minoritas yang tak terlalu menikmati layanan macam itu. Kalaupun sesekali mengakses Youtube, biasanya aku cuman menikmati musik2 yang jarang dipasang di radio2 Indonesia (yang tak menghargai mutu) dan jarang dijual di kotaku. Gambarnya, lupakan aja :).

Tapi ceritanya bukan lagi mau membahas Youtube nih. Kira2, pingin nggak, bikin Youtube sendiri. Tak terlalu sulit sebenarnya. Sebuah server, dan akses yang memadai ke Internet, tentu diperlukan. Gila aja kalau mau bikin layanan sekelas Youtube tapi pakai hostingan :). Untuk software, ada beberapa alternatif open source yang bisa digunakan. Salah satunya adalah PHPmotion.

PHPmotion, dengan alamat di www.phpmotion.com, merupakan CMS sharing video yang juga mendukung sharing media lain (termasuk mp3). Software ini 100% bebas digunakan. Ia juga terancang dengan template, yang memungkinkan kita mengubah tampilan secara mudah (mirip Joomla atau Wordpress gitu); selain kemudahan mengedit CSS. Konon sudah ratusan ribu webmaster menggunakan software ini. Hmmm, artinya setidaknya sudah ada ratusan ribu calon pesaing Youtube.

OK, jadi yang penting bukan lagi soal engine. Tapi mau diapakan layanan ini. Bisnis? Layanan masyarakat? Display karya pribadi? Keisengan menarik? Dan kalau bisnis: bisnis macam apa? Sharing content? Iklan. Waaaa. Mangga kalau mau mulai coba2. Dan kalau gagal2 dikit, jangan sungkan untuk tak bertanya di sini. Di webnya ada forumnya kok.

Kompetisi software ini? Ada :). Lain hari kita bahas deh.

 

Bote

01 Agustus 2008 -- 06/0

“Setia hingga akhir dalam keyakinan,” itu ada tertulis di kitab di tangannya. 24 tahun hanya ia hidup, sebelum ia biarkan kekejaman mencerabut hidupnya. Ia Bote, dan dunia mengenang nama panjangnya: Robert Wolter Monginsidi.

bote.jpgLahir di Manado, dan mulai bekerja sebagai guru di Luwuk Banggai, serta tumbuh rasa kebangsaannya. Menyaksikan kembalinya pasukan Belanda ke tanah airnya, ia membentuk induk organisasi kelaskaran yang disebut LAPRIS (Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi) pada Juli 1946, dan terpilih sebagai sekjen.

Keberanian, kecerdasan, dan pembawaan diri Bote membuatnya makin disegani dan dipercaya memimpin aksi-aksi pertempuran melawan tentara Belanda di dalam dan di luar kota. Taktik dan strateginya mencengangkan dan meresahkan pihak Belanda. Bote sempat tertangkap, tapi mampu melarikan diri dari penjara melalui cerobong asap dapur. Maka Belanda menjalankan taktik khasnya: penyuapan dan pecah belah. Iming2 uang ditawarkan bagi rakyat yang bersedia mengkhianati Bote. Dengan cara itu, Bote akhirnya tertangkap, dimasukan ke tahanan di Kiskampement Makassar dengan tangan dan kaki dirantai dan dikaitkan di dinding tembok, dan kemudian dijatuhi hukuman mati.

Di dalam sel, Bote membuat catatan-catatan:

  1. Jangan takut melihat masa yang akan datang. Saya telah turut membersihkan jalan bagi kalian meskipun belum semua tenagaku kukeluarkan.
  2. Jangan berhenti mengumpulkan pengetahuan agar kepercayaan pada diri sendiri tetap ada, dan juga jangan tinggalkan kepercayaan teguh pada Tuhan.Kasih Tuhan mengatasi segala-galanya.
  3. Bahwa sedari kecil harus tahu berterima kasih tahu berdiri sendiri. Belajarlah melipat kepahitan! Belajar mulai dari 6 tahun, dan jadilah contoh mulai kecil sedia berkorban untuk orang lain.
  4. Apa yang saya bisa tinggalkan hanyalah rohku saja yaitu roh “setia hingga terakhir pada tanah air” dan tidak mundur sekalipun menemui rintangan apapun menuju cita-cita kebangsaan yang ketat.
  5. Memang betul, bahwa ditembak bagi saya berarti kemenangan batin dan hukuman apapun tidak membelenggu jiwa.
  6. Perjuanganku terlalu kurang, tapi sekarang Tuhan memanggilku, rohku saja yang akan tetap menyertai pemuda-pemudi. Semua air mata, dan darah yang telah dicurahkan akan menjadi salah satu fondasi yang kokoh untuk tanah air kita yang dicintai: Indonesia.
  7. Saya telah relakan diriku sebagai korban dengan penuh keikhlasan memenuhi kewajiban buat masyarakat kini dan yang akan dating. Saya penuh percaya bahwa berkorban untuk tanah air mendekati pengenalan kepada Tuhan yang Maha Esa.
  8. Jika jatuh sembilan kali, bangunlah sepuluh kali. Jika tidak bisa bangun berusahalah untuk duduk dan berserah kepada Tuhan.

Di luar sel, dunia sedang berubah. Secara sepihak, Belanda mengkhianati perjanjian Renville dan menduduki Yogyakarta. Tapi dukungan dari dunia memaksa Belanda kembali ke meja perundingan, yang kemudian dipimpin oleh Dr Roem dan Van Roijen. Belanda dipaksa mengakui kedaulatan Indonesia, yang dijadwalkan akan dilakukan pada akhir tahun 1949.

Namun di Makassar, perundingan yang sudah mencapai final itu tidak menyurutkan niat pembesar Belanda untuk membunuh Bote. Pada 5 September 1949, Bote dihadapkan pada regu tembak. Ia menolak ditutup matanya. “Dengan hati dan mata terbuka, aku ingin melihat peluru penjajah menembus dadaku. ” Lalu ia memekikkan “Merdeka!” dan delapan butir peluru dimuntahkan ke tubuhnya: dada kiri, dada kanan, ketiak, pelipis, pusar.

24 tahun ia waktu itu. Namun semangatnya tak pernah dapat dimatikan.

(Catatan: Copy juga dari KUN.CO.RO -- lagi pingin blogging tapi nggak sempat nih, matahari keburu tinggi lagi)

 

Blogging 80

31 Juli 2008 -- 00/0

Copy dari KUN.CO.RO, waktu sedang memperingati 8 tahun blogging.

Tentu Internet 2.0 memang sudah terjadi (atau Internet 3.0 — tidak ada bedanya). Tentu wikinomics, prosumerity, etc, memang sudah terbukti. Namun bukan berarti blogging jadi harus jadi pusat perhatian. Blogging memang kegiatan Internet 2.0 yang paling mudah. Hanya dalam beberapa menit, seseorang yang baru mengenal Internet sudah dapat menjadi penerbit kelas dunia. Blogging dapat dimanfaatkan buat jadi pintu pertama buat mengenal Internet transaksional, sebelum orang awam mengenal keunikan-keunikan Internet lainnya. Namun blogging juga mirip SMS: cuman jadi alat bantu komunikasi. Blogging, Internet, komputer, tidak membuat hal baik jadi jelek atau hal jelek jadi baik: menulis kebodohan di Internet tidak membuatnya jadi benar atau keren.

Tapi kenapa menulis blog sampai 8 tahun (dan entah berapa macam blog)? Mengapa kemudian sibuk mempromosikan blog, menjahit kegiatan antar komunitas, meroadshowkan blog? Bukan karena blog itu istimewa; tetapi karena melihat potensi bahwa blog bisa jadi ruang belajar yang ampuh untuk transformasi budaya, penularan ilmu, dan pembudayaan infokom secara intens. Dan kalau “blogger” jadi label, jadi terekspose secara eksklusif, jadi dibikin terlalu bergaya dan centil, itu efek yang sebenarnya tak diharapkan (tapi bisa dijadikan ruang tersendiri untuk mereka yang memang centil dan suka bergaya). Dipikir2, ajaib juga kalau blogger pingin diekspos TV dan media konvensional lain :) — mirip kaum republiken yang meminta pengakuan dari maharaja :). Sejauh ini sih, yang terjadi adalah bahwa media konvensionallah yang bekepentingan mengekspos kegiatan blogging dan semacamnya, untuk membuat diri mereka sendiri updated.

Aku akan terus ngeblog, terus meneruskan kampanye blogging, dan terus mendukung kegiatan2 yang membuat dunia blog ramai; terutama membantu kegiatan blogging & komunitas blogging agar mulai memberdayakan masyarakat yang lebih luas.

Foto yang tadinya ada di sini (tapi sudah dihapus) adalah foto aku di Yogya kemarin: menyampaikan laporan & ide2 content dari Jawa Barat. Aku memulai dengan menyebutkan bahwa content & communities tak mungkin terpisahkan. Dengan Internet 2.0, content, feature, dan bahkan produk, akan dibentuk dan didefinisikan oleh communities. Yaw, mungkin ini presentasi terakhir dimana aku mewakili Jawa Barat. Tapi mudah2an bukan presentasi terakhir dimana aku mewakili kaum blogger

 

Tema Anti Narkoba

28 Juni 2008 -- 08/0

Salah satu tema dalam Kompetisi Blog Flexter 2008 adalah Kampanye Anti Penggunaan Narkoba. Narkotik, kita hafal, adalah zat kimia amat adiktif yang dalam jangka pendek mengurangi respons syaraf (sehingga mengurangi rasa sakit, rasa sedih, menggantikan dengan kenyamanan semu), dan dalam jangka panjang merusak tubuh dengan efek yang irreversible. Nartkotik berbahaya  bukan hanya karena ia merusak tubuh, tetapi karena efek adiktifnya yang kuat. Pengguna yang sadar akan bahayanya pun nyaris selalu tak mampu menghentikan konsumsi benda beracun ini. Konsumsi narkotik menjatuhkan performansi generasi demi generasi dalam sebuah bangsa, dan dapat melumpuhkan bangsa. Karena itu perang terhadap narkotik menjadi perang internasional.

Tapi yang aku pikir perlu diperangi memang adalah irrasionalisme. Kita agak sulit mendukung program pemerintah melarang narkotik, sementara pemerintah memperbolehkan konsumsi barang2 beracun dan bodoh lain. Rokok misalnya. Alih2 menghentikan konsumsi rokok, pemerintah justru mengambil cukai tinggi. Cukai yang tinggi itu akhirnya dijadikan pembenaran industri rokok untuk mengatakan bahwa industri rokok mendukung pembangunan. Ya, itu contoh lain pembodohan bangsa. Semua penelitian ilmiah yang tak disponsori industri rokok membuktikan sebaliknya: biaya yang harus dikeluarkan negara dan masyarakat untuk mengatasi kanker paru-paru, peningkatan gangguan jantung (atherosklerosis dll), gangguan ISPA, dll, sudah lebih tinggi daripada cukai yang dibayar mafia rokok. Dan kita belum menghitung penurunan produktivitas akibat rokok yang mengganggu para pekerja, keluarga, dan rekan mereka yang turut teracuni rokok. Bullshit lain yang dikeluarkan para mafia rokok adalah bahwa mereka menghidupi ribuan buruh. Tetapi penelitian yang tak disponsori industri rokok menunjukkan bahwa justru di industri rokok terjadi eksploitasi: persentase komponen biaya untuk buruh di industri rokok merupakan yang terkecil dibandingkan industri lain. Dan sementara pembodohan itu berlangsung, tingkat stroke, jantung koroner, kanker paru2, dan kanker2 lain meningkat di masyarakat. Kanker paru2 adalah kanker yang persentase kesembuhannya paling kecil.

Kita membiarkan pembodohan terjadi terus menerus. Lalu kita berteriak Anti Narkoba. Mungkinkah berhasil?

(Catatan: Ini cuman tulisan contoh.)